Minat dan peran remaja banjar mempelajari Musik panting di kalimantan selatan

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
     Di era modernisasi saat ini musik tentu bukan menjadi hal yang awam bagi umat manusia. Musik merupakan suatu hal yang akrab dalam kehidupan manusia dari dulu hingga sekarang, baik kalangan tua maupun muda. Seiring perkembangan zaman, musikpun tentu mengalami perkembangan yang begitu pesat mengikuti perkembangan teknologi, namun berkembangnya musik modern tentu tidak lepas dari pengaruh musik tradisional.
     Musik tradisional menurut Tumbijo (1997:13) "seni budaya yang sejak lama turun-temurun telah hidup dan berkembang pada daerah tertentu". Maka dapat dijelaskan bahwa musik tradisional adalah musik masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun dan berkelanjutan pada masyarakat suatu daerah.
     Indonesia adalah negara yang besar, negara yang terdiri atas ribuan pulau yang kaya akan nilai budaya dan tradisi, salah satunya kesenian musik tradisional Panting yang ada di Pulau Kalimantan, tepatnya di Kalimantan Selatan. Disebut Musik Panting menurut Yustan Azidin "karena kesenian musik ini alat utamanya adalah panting maka dari itulah musik tersebut alangkah baiknya diberi nama Musik Panting". (Khaidir19.blogspot.com, dikutip pada sabtu, 01/10/2016, pukul 10.40)
     Pemuda Banjar sebagai kaum intelektual dan merupakan pewaris seni dan kebudayaan masyarakat Banjar haruslah memiliki wawasan dan kemampuan untuk melestarikan seni dan kebudayaan masyarakatnya sendiri.
     Namun sangatlah disayangkan dengan kenyataan sekarang ini peminat kesenian-kesenian daerah tidak terlalu berkembang. Pada saat ini bentuk-bentuk kesenian tradisional tidak lagi menarik bagi masyarakatnya, karena dianggap ketinggalan zaman sehingga banyak anak muda yang enggan belajar dan menggelutinya. Keengganan para kawula muda disebabkan oleh rasa malu karena tidak mengikuti perkembangan kesenian modern saat ini. Di era modern ini banyak sekali hiburan-hiburan yang bersifat memanjakan masyarakat. Di pedesaan misalnya, sarana hiburan diadakan biasanya ketika ada kegiatan hajatan perkawinan, selamatan, maupun kegiatan pencarian dana dan lain sebagainya. Di perkotaan lain lagi, sarana hiburan masyarakat diwujudkan dengan didirikannya bioskop, diskotik, klab-klab malam hingga konser-konser band ternama. Inilah yang menjadi salah satu penyebab mulai hilangnya kesenian tradisional di Kalimantan Selatan.
     Penulis menyadari bahwa kebudayaan ataupun kesenian daerah yang hampir punah itu merupakan asset daerah yang milik kita bersama, keberadaannya menjadi tanggung jawab masyarakat Kalimantan Selatan untuk melestarikan dan mengenalkannya secara berkesinambungan dari generasi ke generasi.
     Oleh karena itu berbagai kegiatan yang dapat menunjang dalam pelestarian seni dan budaya harus benar-benar diperhatikan. Namun dalam menghadapi era globalisasi sekarang ini, tidak cukup hanya dengan berbekal pengetahuan saja tanpa dibarengi dengan kemauan untuk melestarikan seni dan kebudayaan tersebut. Untuk itulah berbagai kegiatan yang dapat mendorong terlaksananya peningkatan kemampuan seni dan budaya harus terus ditingkatkan.

1.2  Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana  minat  pemuda Banjar dalam  mempelajari kesenian  Musik
         Panting di Kalimantan Selatan?
     1.2.2 Bagaimana peranan pemuda Banjar dalam melestarikan kesenian Musik     Panting di Kalimantan Selatan?
1.3  Tujuan Penelitian
    1.3.1 Mengetahui    minat  pemuda   Banjar   dalam  mempelajari  kesenian                       Musik Panting di Kalimantan Selatan.
    1.3.2. Agar mengetahui peranan apa saja yang telah dilakukan pemuda Banjar      untuk melestarikan kesenian Musik Panting di Kalimantan Selatan.

1. 4  Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi peneliti yaitu untuk mengetahui hal  yang  mempengaruhi  minat
         pemuda   Banjar   dalam   mempelajari  kesenian  Musik  Panting  di
         Kalimantan Selatan.
1.4.2 Bagi masyarakat yaitu untuk menambah wawasan tentang kesenian
         Musik Panting yang ada di Kalimantan Selatan.

1. 5  Definisi Operasional
1.5.1 Minat Mempelajari dan Peran
1.5.1.1 Minat
   Menurut Djaali(2008:121) “minat adalah rasa lebih suka dan  rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh”.
1.5.1.2 Belajar
         Sedangkan  belajar Menurut Whittaker,(dalam Djamarah, 2011:12) merumuskan bahwa “belajar sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman”.
1.5.1.3 Peranan
       Dalam penelitian ini arti kata "peranan" yang dimaksud penulis adalah seperti definisi peranan yang dikemukakan oleh Livinson dalam Soerjono Soekanto (2007:213) yaitu suatu tindakan atau perilaku individu yang nyata sebagai struktur sosial masyarakat dalam konteks kesenian tradisional musik panting.
Dengan demikian dalam penelitian ini yang dimaksud dengan minat mempelajari adalah kecenderungan individu untuk memiliki rasa senang tanpa ada paksaan sehingga dapat menyebabkan perubahan pengetahuan, ketrampilan dan tingkah laku. Dan peranan yaitu suatu tindakan atau perilaku individu yang nyata sebagai struktur sosial masyarakat dalam konteks kesenian tradisional musik panting.
    
1.5.2 Musik Panting
Beragam kesenian daerah yang dapat kita nikmati di indonesia, salah satunya adalah kesenian daerah musik Panting yang berasal dari Kalimantan Selatan. Dalam bahasa Banjar, kata “Panting” mengandung banyak arti salah satunya adalah duri ikan yang mengandung racun. Namun, yang kita bicarakan  bukan mengenai duri ikan melainkan, tentang sebuah alat musik yang diberi nama alat musik Panting. Dalam hal ini “Panting” berarti petik, yaitu menyembunyikan senar dengan teknik sentilan.
Musik Panting adalah musik tradisional dari suku Banjar di Kalimantan Selatan. Dikatakan musik Panting karena didominasi oleh alat musik yang dinamakan Panting, sejenis gambus yang memakai senar  maka disebut musik Panting. Pada awalnya musik Panting berasal dari daerah Tapin, Kalimantan Selatan. Panting merupakan alat musik yang dipetik yang berbentuk seperti gambus Arab tetapi ukurannya lebih kecil. Pada waktu dulu musik panting hanya dimainkan secara perorangan. Karena semakin majunya perkembangan zaman, maka musik Panting jadi lebih menarik jika dipadukan dengan beberapa alat musik lainnya, seperti babun, gong,dan biola.
Pada umumnya orang memainkan musik Panting adalah masyarakat Banjar. Pemain musik panting biasanya menggunakan pakaian banjar, bagi laki-laki menggunakan peci dan yang perempuan menggunakan kerudung. Pemain musik panting memainkan alat musiknya dengan posisi duduk, pemain laki-laki duduk bersila dan pemain perempuan duduk bertelimpuh. Salah satu tokoh yang paling terkenal sebagai pemain Panting adalah A. Sarbani dan beberapa group - group musik Panting yang lain. Seiring perkembangan zaman beberapa kelompok musik Panting sudah jarang ditemui, kecuali pada acara besar seperti acara adat, keagamaan, parade seni dan beberapa acara lainnya.
Alat-alat musik Panting terdiri dari :
·         Panting, alat musik yang berbentuk  seperti gabus Arab tetapi lebih
  kecil dan     memiliki senar. Panting dimainkan dengan cara dipetik.
·         Babun, alat musik yang terbuat dari kayu berbentuk bulat, ditengahnya terdapat lubang, dan di sisi kanan dan kirinya dilapisi dengan kulit yang berasal dari kulit kambing. Babun dimainkan dengan cara dipukul.
·         Gong, biasanya terbuat dari aluminium berbentuk bulat dan ditengahnya terdapat benjolan berbentuk bulat. Gong dimainkan dengan cara dipukul.
·         Biola, sejenis alat gesek.
·         Suling bambu, dimainkan dengan cara ditiup.
·         Ketipak, bentuknya mirip tarbang tetapi ukurannya lebih kecil, dan kedua sisinya dilapisi dengan kulit.
·         Tamburin, alat musik pukul yang terbuat dari logam tipis dan biasanya masyarakat Banjar menyebut tamburin dengan nama guguncai.



BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Terdahulu yang Relevan
    Penelitian terdahulu adalah tinjauan terhadap tulisan-tulisan yang ada keterkaitan dengan penelitian ini yang dapat digunakan sebagai data pendukung terutama hasil penelitian yang dilakukan oleh para peneliti lain yang memiliki keterkaitan topik, serta pendapat yang relevan. Adapun penelitian atau tulisan yang ada kaitannya dengan penelitian tentang “Minat dan Peran Remaja Banjar Mempelajari Musik Panting di Kalimantan Selatan” adalah sebagai berikut.
      Yolana Putri Probosekar dalam skripsi yang berjudul “Peran dan Proses Kreatif Sanggar Tari Guntur Dance Company Pada Masyarakat Kota Kediri” tahun 2015, skripsi sarjana di Universitas Negeri Surabaya. Dalam penelitian ini membahas tentang peranan Sanggar Tari Guntur Dance Company. Relevansi dengan penelitian ini adalah juga membahas tentang bagaimana peranan, namun perbedaannya terdapat pada objek penelitian, dalam skripsi Yolana Putri Probosekar objek penelitiannya adalah peran Sanggar Tari Guntur Dance Company sedangkan pada penelitian ini objeknya adalah peran remaja Banjar.
       Juga dalam artikel online oleh khaidir membahas berjudul “Musik Panting”. Dalam penelitian ini pada bagian akhir membahas tentang menurunnya minat remaja terhadap kesenian tradisional. Relevansi Relevansi dengan penelitian ini adalah juga membahas tentang bagaimana minat, namun perbedaannya terdapat pada pembahasan, di dalam pernyataan Khaidir menyebutkan minat remaja terhadap kesenian tradisional, sedangkan dalam penelitian ini peneliti ingin mengkaji bagaimana minat dan peranan remaja Banjar terhadap Musik Panting yang ada di Kalimantan Selatan. Dengan demikian penelitian ini dapat terbukti keoriginalitasannya.

2.2 Landasan Teori
2.1.1 Pengertian Minat
                 Sebelum kita mengetahui minat belajar maka kita harus mengetahui pengertian minat dan belajar. Kata minat secara etimologi berasal dari Bahasa Inggris "interest" yang berarti kesukaan, perhatian (kecenderungan hati pada sesuatu), keinginan. Menurut Ahmadi (2009:148) “Minat adalah sikap jiwa orang seorang termasuk ketiga fungsi jiwanya (kognisi,konasi, dan emosi), yang tertuju pada sesuatu dan dalam hubungan itu unsur perasaan yang kuat”. Menurut Slameto (2003:180), “minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan”. Sedangkan menurut Djaali(2008:121) “minat adalah rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh.” Dari beberapa pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian minat adalah rasa ketertarikan, perhatian, keinginan lebih yang dimiliki seseorang terhadap suatu hal, tanpa ada dorongan.
2.1.2  Pengertian Peranan
Secara umum peranan adalah perilaku yang dilakukan oleh seseorang terkait oleh kedudukannya dalam struktur sosial atau kelompok sosial di masyarakat, artinya setiap orang memiliki peranan masing-masing sesuai dengan kedudukan yang ia miliki. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “Peran berarti perangkat tingkah atau karakter yang diharapkan atau dimiliki oleh orang yang berkedudukan dalam masyarakat, sedangkan peranan adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu peristiwa”.
     Menurut Livinson dalam Soerjono Soekanto (2007:213) menyebutkan bahwa peranan mencakup tiga hal, yaitu:
a. Peranan meliputi norma-norma yang diungkapkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti ini merupakan rangkaian peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan masyarakat.
b. Peranan adalah suatu konsep perihal apa yang dapat dilakukan oleh individu masyarakat sebagai individu.
c. Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting sebagai struktur sosial masyarakat.

              Dalam penelitian ini arti kata "peranan" yang dimaksud penulis adalah seperti definisi peranan yang dikemukakan oleh Livinson dalam Soerjono Soekanto (2007:213) yaitu suatu tindakan atau perilaku individu yang nyata sebagai struktur sosial masyarakat dalam konteks kesenian tradisional musik panting.

Post a Comment

Previous Post Next Post

Contact Form